Gaya Hidup

Cara Menjaga Iklim dengan Meninggalkan Sampah Plastik

Sampah selalu menjadi masalah global yang tidak pernah usai selama manusia hidup. Hampir semua negara memiliki masalah dalam mengatasi timbunan sampah terus meningkat setiap hari. Tidak heran jika sampah selalu menjadi target utama dalam penanganan isu lingkungan. Oleh karena itu, saat ini marak didengungkan program re-use dan re-cycle sampah-sampah yang ada untuk menanggulangi masalah ini.
Cara Menjaga Iklim
Tidak terkecuali di Indonesia, masalah sampah di negara ini serupa aliran banjir bandang yang tidak pernah surut. Tengok saja di area terdekat kita, ada berapa banyak sampah berserakan? Berdasarkan data KLHK dan Kementrian Perindustrian tahun 2016, jumlah timbulan sampah di Indonesia sudah mencapai 65,2 juta ton pertahun.
Misalnya saja di DKI Jakarta, BPS pernah merilis total sampah mencapai 7 juta ton perkiraan produksi tahun 2017. Itupun hanya 6,8 juta ton sampah yang terangkut pada tahun 2017. Ini menandakan bahwa masih ada sekitar 200 ton sampah yang masih berserakan di sekitar lingkungan tinggal, di jalanan, mengotori sungai, hingga mencemari lautan.
Dari data tersebut kita bisa sama-sama membayangkan bagimana kalau sampah-sampah ini tidak kita batasi. Setiap harinya 600-800ribu lembar sampah plastik setiap harinya masuk ke Bantar Gebang. Ini baru 14% dari total sampah yang ada.
Idealnya, penggunaan sampah plastik ini serupa aliran air dari kran. Jika kita ingin mengatasinya maka hal pertama yang perlu dilakukan adalah dengan menutup kran air serapat mungkin. Ya, dengan kata lain tidak lagi menggunakan plastik dalam seluruh lini kehidupan. Kita bisa mengurangi pengunaan sampah plastik mulai dari hal terkecil dari diri sendiri.
Pertama dengan mengetahui bahaya sampah plastik untuk lingkungan dan bumi di masa depan, dikutip dari dietkantongplastik.id:

1. Mencemari Lingkungan

Kantong plastik merupakan barang sekali pakai dengan kegiatan pascakonsumsi yang tidak bertanggungjawab. Kantong plastik yang dibuang sembarangan bisa menyebabkan: - tersumbatnya selokan dan badan air - termakan oleh hewan - rusaknya ekosistem di sungai dan laut Karena sampah plastik (khususnya kantong plastik) tidak dikelola dengan bertanggungjawab, hal ini menyebabkan Indonesia ‘dituduh’ sebagai penyumbang sampah plastik terbesar kedua di dunia
Buang Sampah pada tempatnya (sumber : freepik)

2. Berbahaya Bagi Manusia

Kantong plastik yang dibakar bisa menyebabkan pencemaran udara dan gangguan pernapasan. Selain itu, kantong plastik yang digunakan sebagai wadah makanan berpotensi mengganggu kesehatan manusia karena racun pada kantong plastik bisa berpindah ke makanan.

3. Terurai Sangat Lama

Kantong plastik (dan jenis plastik lainnya) sulit terurai di tanah karena rantai karbonnya yang panjang, sehingga sulit diurai oleh mikroorganisme. Kantong plastik akan terurai ratusan hingga ribuan tahun kemudian. Kantong plastik yang diklaim ramah lingkungan pun akan terurai lama dan tetap akan menjadi sampah. Terlebih lagi karena sifatnya yang cepat terurai menjadi mikro plastik, akan lebih mudah untuk mencemari lingkungan terutama pada sumber air konsumsi.
Sampah sampah dari hasil manusia (sumber : freepik)
Lantas bagaimana cara mengurangi bahkan menghentikan produksi sampah plastik ini? Beberapa waktu belakangan istilah diet kantong plastik cukup populer di media sosial, ini merupakan salah satu kampanye untuk mengurangi pengunaan sampah plastik. Karena menghentikan penggunaan kantong plastik sekali pakai secara ekstrem masih terbilang sulit, berikut beberapa hal yang biasa saya lakukan untuk mengurangi penggunaan sampah plastik sekali pakai sehari-hari.

1. Membawa Botol Minum

Konsumsi air mineral dalam kemasan memang sangat praktis, namun sisa botol bekas pakai inilah biang penyumbang berton-ton sampah yang saya uraikan di atas. Salah satu cara yang bisa kita lakukan adalah membawa botol minum sendiri bila bepergian. Sesuaikan ukuran botol minum dengan kebutuhan dan mobilitas. Jika habis kita tinggal mengisi ulang dan lebih hemat pengeluaran juga.
bawa botol minum sendiri

2. Tidak Memakai Sedotan Plastik

Saya pernah mengikuti kegiatan bersih-bersih pantai di Pulau Seribu. Jakarta. Ternyata sampah sedotan ini paling banyak ditemukan. Bahkan sampah yang  kami temukan sampai 5 kg dan bisa sepanjang 2 gerbong kereta bila disusun memanjang. Apalagi kasus sedotan plastik yang tersangkut dan tertelan pada hewan laut sudah kerap kita temui. Hal yang biasa saya lakukan adalah dengan membawa sedotan stainless, sedotan bambu, atau minum langsung dari gelas. Kebiasaan yang terlihat kecil dan sepele, namun dapat memberikan dampak signifikan untuk berperan langsung dalam menutup kran aliran sampah plastik.
Hasil Selam saat Mengambil sedotan di dasar laut

3. Menyiapkan Kantong Belanja Kain Sendiri

Saya adalah tipikal orang yang senang berbelanja camilan, jika hanya dua tau tiga bungkus saja biasanya langsung dimasukan ke dalam tas. Namun akan merepotkan jika berniat untuk membeli stok camilan dalam jumlah banyak, sebab itu baiknya selalu sedia kantong belanja kain yang dapat dilipat kecil dan selalu dibawa ke manapun pergi.
Selain terbebas dari biaya tambahan untuk membeli kantong plastik, kita juga secara tidak langsung turut mengambil andil dalam menyelamatkan bumi.
Memang kita tidak bisa benar-benar suci dari sampah plastik. Banyak sekali produk-produk rumah tangga yang masih dikemas dengan plastik, tapi bukan tidak mungkin untuk kita ambil bagian dalam mengurangi sampah plastik.
Lalu bagaimana jika sampah plastik terlanjur sampai ke rumah?
Karena perilaku ‘buanglah sampah pada tempatnya’ saja tidaklah cukup. Sampah yang kita buang dengan sempurna, belum tentu akan terolah dengan baik, bahkan ekstremnya malah tidak sempat mencapai TPA. Apalagi plastik ini dibakar. Plastik, jika bertemu api, matahari, panas, akan mengeluarkan molekul beracun. Ketika dibakar, plastik mengeluarkan molekul dioxin beracun yang akan dibawa oleh angin, di udara, dalam hujan, dan kembaliturun ke kebun, sawah, hutan, dan sungai. Hal ini yang malah sangatmembahayakan ekosistem disekitar.
pemanfaatan sampah plastik bekas sebagai media tanam
Ada beberapa hal sederhana yang saya dan ayah terapkan di rumah, sampah plastik yang cukup tebal dijadikan polibag untuk benih tanaman seperti tomat,cabai, hingga terung. Ini juga bisa menjadi strategi untuk menghemat pengeluaran membeli pot.
Selain itu, sampah plastik juga bisa menjadi media untuk asah kreativitas dan bernilai ekonomi, dengan dibuat kerajinan tangan dan cendramata. Dalam skala besar skil membuat kerajinan tangan berbahan sampah plastik ini dapat  melebar hingga pengelolaan bank sampah yang juga memanfaatkan sampah rumah tangga lingkungan sekitar tempat tinggal. Atau kita bisa membuat ecobrick dari bahan plastik ini. Dengan ecobrick kita dapat memanfaatkan sampah plastik untuk membangun pondasi atau sekedar untuk bahan tempat duduk saja.
Itu dia beberapa hal aksi saya dalam menangulangi sampah plastik yang saat ini semakin merajalela. Tidak bisa dimungkiri kita saat masih tergantung dengan kemasan plastik sekali pakai.
Tak ada barang yang tak memakai plastik. Dari hal itulah mari kita mulai dari sekarang untuk mengurangi penggunaan plastik. Jangan sampai nantinya hewan, tumbuhan bahkan bumi kita penuh sampah dari plastik. Yuk mari jaga kelestarian lingkungan kita
Saya sudah berbagi pengalaman soal perubahan iklim. Anda juga bisa berbagi dengan mengikuti lomba blog "Perubahan Iklim" yang diselenggarakan KBR (Kantor Berita Radio) dan Ibu-Ibu Doyan Nulis (IIDN). Syaratnya, bisa Anda lihat di sini 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *